<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>NCBF &#8211; Jalan Baru</title>
	<atom:link href="https://blog.kilat.quest/tag/ncbf/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://blog.kilat.quest</link>
	<description>Merajut Integritas Menata Masa Depan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 15 Aug 2025 04:16:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>
	<item>
		<title>Studi Kasus: Implementasi Perampasan Aset Non-Pidana di 5 Negara</title>
		<link>https://blog.kilat.quest/2025/08/11/studi-kasus-implementasikan-perampasan-aset-non-pidana-di-5-negara/</link>
					<comments>https://blog.kilat.quest/2025/08/11/studi-kasus-implementasikan-perampasan-aset-non-pidana-di-5-negara/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[ariefadi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2025 10:32:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Korporasi]]></category>
		<category><![CDATA[Penyelamatan Aset]]></category>
		<category><![CDATA[Regulasi & Layanan]]></category>
		<category><![CDATA[White Collar]]></category>
		<category><![CDATA[Asset Recovery]]></category>
		<category><![CDATA[Due Process]]></category>
		<category><![CDATA[NCBF]]></category>
		<category><![CDATA[Perampasan Aset]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Kasus Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Unexplained Wealth Order]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://blog.kilat.quest/?p=388</guid>

					<description><![CDATA[(Seri terakhir dari 3 tulisan tentang Perampasan Aset Hasil Kejahatan secara Non Pidana) Di dua bagian sebelumnya, kita telah memahami bahwa Perampasan Aset Non-Pidana (NCBF) adalah pergeseran hukum strategis yang menjanjikan efisiensi dalam memberantas kejahatan transnasional dan korupsi. Kita juga telah menelaah dilema filosofis dan kontroversi hak asasi manusia yang mengiringi alat yang kuat ini. Pertanyaannya sekarang, bagaimana NCBF diterapkan di dunia nyata? Setiap negara mengimplementasikan NCBF dengan pendekatan yang berbeda-beda, disesuaikan dengan sistem hukum, budaya, dan tantangan spesifik mereka. Artikel bagian terakhir ini akan membawa kita dalam perjalanan global untuk melihat bagaimana yurisdiksi utama menerapkan NCBF. Kita akan menganalisis prosedur, standar pembuktian, dan perlindungan yang mereka terapkan, serta tantangan yang mereka hadapi. Dari Amerika Serikat hingga Inggris, dan dari Afrika Selatan hingga Peru, kita akan melihat bagaimana NCBF menjadi alat yang sangat adaptif—dan seringkali kontroversial—dalam upaya global untuk melawan kejahatan. Pembahasan: Metode Hukum dan Prosedur NCBF di Berbagai Negara Amerika Serikat: Perampasan Perdata Yudisial dan Administratif Amerika Serikat adalah salah satu negara yang paling awal mengadopsi NCBF secara luas, memanfaatkan dua bentuk utama: Perlindungan kunci di AS adalah “Innocent Owner Defense”. Pemilik yang tidak bersalah harus membuktikan bahwa mereka tidak tahu tentang penggunaan ilegal properti atau telah melakukan segala upaya untuk mengakhirinya. Namun, beban pembuktian ini ada pada pemilik, yang bisa menjadi tantangan finansial dan hukum yang berat. Inggris: The Proceeds of Crime Act 2002 (POCA) Di Inggris, perampasan aset diatur oleh Proceeds of Crime Act (POCA) 2002. POCA memungkinkan penyitaan aset secara perdata jika ada alasan yang masuk akal untuk mencurigai bahwa aset tersebut adalah hasil kejahatan. Standar pembuktian yang digunakan adalah “balance of probabilities”. POCA juga memperkenalkan beberapa mekanisme inovatif: Penerapan POCA menunjukkan pendekatan yang agresif terhadap pemulihan aset, namun juga menimbulkan kekhawatiran tentang potensi penyalahgunaan, terutama di mana standar pembuktian yang rendah dikombinasikan dengan beban pembuktian terbalik. Australia: Perintah Pembatasan dan Kekayaan yang Tidak Dapat Dijelaskan Sama seperti Inggris, Australia memiliki undang-undang yang kuat, seperti Proceeds of Crime Act 2002, yang memberdayakan pengadilan untuk mengeluarkan berbagai perintah. Australia juga memiliki perlindungan Exclusion Orders, di mana pengadilan dapat mengecualikan properti yang terbukti diperoleh secara sah dari perintah penyitaan. Ini adalah contoh bagaimana sistem hukum mencoba menyeimbangkan tujuan penegakan hukum dengan perlindungan hak milik. Irlandia, Kanada, dan Afrika Selatan: Variasi dalam Prosedur dan Beban Pembuktian Peru: Pengalaman dengan Extinción de Dominio Peru mengadopsi NCBF melalui undang-undang Extinción de dominio pada tahun 2018. Undang-undang ini telah terbukti efektif dalam memulihkan aset senilai jutaan dolar. Namun, implementasinya menghadapi tantangan politik. Ada upaya-upaya untuk mengubah legislasi ini agar menjadi bersyarat pada vonis pidana, yang secara fundamental akan melemahkan dan mendistorsi konsep NCBF. Hal ini menyoroti bahwa bahkan ketika legislasi NCBF ada, ia masih rentan terhadap tekanan politik dan tantangan hukum. Kesimpulan Akhir: Masa Depan NCBF dalam Menyeimbangkan Kewenangan dan Keadilan Serial artikel ini telah membawa kita pada pemahaman komprehensif tentang Perampasan Aset Non-Konvensional (NCBF). Secara keseluruhan, NCBF adalah alat yang sangat diperlukan dalam gudang senjata anti-kejahatan global. Namun, legitimasi dan keberlanjutannya tidak hanya bergantung pada efektivitasnya dalam memulihkan aset, tetapi juga pada kemampuannya untuk menjunjung tinggi prinsip-prinsip aturan hukum. Implementasi perlindungan yang kuat, seperti pengawasan yudisial independen, hak untuk menentang, dan mekanisme pembelaan pemilik dengan niat baik, adalah kunci untuk memitigasi risiko penyalahgunaan dan menjaga kepercayaan publik. Masa depan NCBF akan ditentukan oleh seberapa baik kita mampu menyeimbangkan kekuasaan negara yang sangat besar dengan perlindungan hak-hak individu yang rapuh.]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://blog.kilat.quest/2025/08/11/studi-kasus-implementasikan-perampasan-aset-non-pidana-di-5-negara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dilema Efektivitas dan HAM: Menganalisis Kontroversi Perampasan Aset Non-Pidana (NCBF)</title>
		<link>https://blog.kilat.quest/2025/08/11/dilema-efektivitas-dan-ham-menganalisis-kontroversi-perampasan-aset-non-penal-ncbf/</link>
					<comments>https://blog.kilat.quest/2025/08/11/dilema-efektivitas-dan-ham-menganalisis-kontroversi-perampasan-aset-non-penal-ncbf/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[ariefadi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2025 10:03:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Korporasi]]></category>
		<category><![CDATA[Penyelamatan Aset]]></category>
		<category><![CDATA[Regulasi & Layanan]]></category>
		<category><![CDATA[White Collar]]></category>
		<category><![CDATA[Beban Pembuktian]]></category>
		<category><![CDATA[Due Process]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Asasi Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdata]]></category>
		<category><![CDATA[NCBF]]></category>
		<category><![CDATA[Praduga Tak Bersalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://blog.kilat.quest/?p=378</guid>

					<description><![CDATA[(Seri 2 dari 3 tulisan tentang Perampasan Aset Hasil Kejahatan secara Non Pidana) Di bagian pertama serial ini, kita telah memahami bahwa Perampasan Aset Non-Pidana (NCBF) adalah alat hukum yang revolusioner, mengalihkan fokus dari penuntutan individu ke penyitaan aset ilegal. Pendekatan “Follow The Money” ini terbukti lebih efisien dalam melumpuhkan jaringan kriminal dan memulihkan kerugian negara. Namun, seperti mata uang yang memiliki dua sisi, NCBF juga memunculkan dilema etis dan hukum yang mendalam. Kekuatan NCBF yang luar biasa—kemampuannya untuk menyita aset tanpa vonis pidana—justru menjadi sumber kontroversi terbesar. Kritikus berpendapat bahwa mekanisme ini berpotensi mengikis pilar-pilar utama sistem hukum yang adil, seperti prinsip praduga tak bersalah dan hak untuk proses hukum yang layak (due process). Artikel bagian kedua ini akan mengupas tuntas perdebatan tersebut. Kita akan menganalisis bagaimana NCBF menantang prinsip-prinsip fundamental ini dan bagaimana sistem hukum di berbagai negara berusaha mencari keseimbangan yang rapuh antara efektivitas penegakan hukum dan perlindungan hak asasi manusia. Titik-titik Krusial Kontroversi NCBF Standar Pembuktian yang Lebih Rendah: Keseimbangan Probabilitas vs. Tanpa Keraguan Salah satu ciri khas NCBF yang paling memicu perdebatan adalah penggunaan standar pembuktian yang lebih rendah. Dalam kasus pidana, penuntut harus membuktikan kesalahan terdakwa “beyond a reasonable doubt” (tanpa keraguan yang masuk akal), sebuah standar yang sangat tinggi. Sebaliknya, dalam NCBF, standar yang digunakan adalah “balance of probabilities” (keseimbangan probabilitas), yang berarti cukup membuktikan bahwa “lebih mungkin benar daripada tidak” bahwa aset tersebut berasal dari kejahatan. Perbedaan standar ini memberikan keuntungan prosedural yang signifikan bagi negara. Namun, di sisi lain, ini berarti aset seseorang dapat dirampas berdasarkan bukti yang tidak cukup kuat untuk menjatuhkan vonis pidana. Contohnya, di Amerika Serikat, pemerintah dapat menggunakan standar pembuktian “preponderance of the evidence” untuk menunjukkan adanya “hubungan substansial” antara properti dan pelanggaran, sebuah standar yang jauh lebih ringan. Ini adalah titik di mana efisiensi dan keadilan berbenturan, dan menjadi tantangan besar bagi para pembuat kebijakan. Melawan Prinsip Praduga Tak Bersalah dan Beban Pembuktian Terbalik (Reverse Onus) Prinsip praduga tak bersalah adalah landasan dari setiap sistem peradilan yang menghormati hak asasi manusia. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap individu dianggap tidak bersalah sampai terbukti sebaliknya. Namun, NCBF, dengan fokus in rem-nya, secara tidak langsung menantang prinsip ini. Meskipun secara teknis yang diadili adalah properti, bukan orang, dalam praktiknya, pemilik properti harus membela diri dan membuktikan bahwa asetnya diperoleh secara sah. Fenomena ini dikenal sebagai beban pembuktian terbalik (reverse onus). Di banyak yurisdiksi, pihak yang memiliki aset harus membuktikan asal usul sah dari aset tersebut, bukan negara yang membuktikan asal usul ilegalnya. Di Inggris, misalnya, legislasi memungkinkan pengadilan untuk berasumsi bahwa aset berasal dari aktivitas kriminal kecuali pemiliknya dapat menunjukkan asal-usul yang sah. Di Kanada (Quebec), aturan baru bahkan menggeser beban pembuktian secara eksplisit kepada pemilik properti, misalnya untuk uang tunai di atas $2.000 yang ditemukan dalam kondisi yang tidak biasa. Ancaman terhadap Hak untuk Tidak Mengkriminasi Diri Sendiri (Non-Self Incrimination) Beban pembuktian terbalik juga menciptakan dilema serius terkait hak untuk tidak mengkriminasi diri sendiri. Jika seorang individu dipaksa untuk menjelaskan asal usul aset mereka dalam kasus perampasan perdata, penjelasan itu, bahkan jika diberikan di bawah paksaan, dapat digunakan untuk melawan mereka dalam penyelidikan atau penuntutan pidana terkait. Ini menciptakan area abu-abu hukum yang signifikan. Beberapa ahli bahkan menyebut NCBF sebagai “semantic mislabeling”, sebuah label yang digunakan untuk menghindari perlindungan prosedural yang ketat dalam hukum pidana. Dengan menyebutnya sebagai proses “perdata”, negara dapat secara strategis melewati perlindungan hak asasi manusia, seperti hak untuk tidak mengkriminasi diri sendiri dan standar pembuktian yang tinggi. Perlindungan Hak Milik dan Pembelaan Pemilik yang Tidak Bersalah (Innocent Owner Defense) Kontroversi lain muncul terkait hak milik pribadi. NCBF dapat berpotensi merampas properti dari individu yang tidak mengetahui atau tidak terlibat dalam aktivitas kriminal. Untuk memitigasi risiko ini, banyak negara, seperti Amerika Serikat dan Australia, menyertakan mekanisme pembelaan pemilik yang tidak bersalah (innocent owner defense). Di Amerika Serikat, seorang pemilik harus membuktikan bahwa ia tidak mengetahui perilaku yang menyebabkan penyitaan atau, setelah mengetahui, telah melakukan segala upaya yang secara wajar dapat diharapkan untuk mengakhiri penggunaan ilegal properti. Namun, beban pembuktian untuk pembelaan ini seringkali dibebankan kepada pemilik yang tidak bersalah itu sendiri. Hal ini memunculkan kekhawatiran tentang ketidakseimbangan kekuasaan antara individu dan negara, di mana pemilik yang tidak bersalah mungkin harus mengeluarkan sumber daya finansial dan hukum yang besar untuk membuktikan ketidakbersalahannya. Kesimpulan NCBF adalah alat yang sangat kuat, tetapi penggunaannya datang dengan dilema dan risiko serius. Di satu sisi, ia menjanjikan efisiensi dan keefektifan yang lebih besar dalam melumpuhkan kejahatan finansial. Di sisi lain, ia berpotensi mengikis prinsip-prinsip fundamental keadilan dan hak asasi manusia. Pertanyaan besarnya bukanlah apakah NCBF harus digunakan, tetapi bagaimana mengimplementasikannya dengan cara yang paling adil dan bertanggung jawab. Bagian kedua ini telah mengurai perdebatan dan kekhawatiran hak asasi manusia yang melekat pada NCBF. Di bagian terakhir serial ini, kita akan melihat bagaimana berbagai negara di dunia telah mencoba menjawab tantangan ini. Kita akan mengeksplorasi metode hukum prosedural NCBF di yurisdiksi utama, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, dan juga melihat kasus-kasus spesifik di Kanada, Afrika Selatan, dan Peru. Kita akan menganalisis perlindungan hukum apa saja yang mereka terapkan untuk memastikan keseimbangan antara efektivitas dan keadilan.]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://blog.kilat.quest/2025/08/11/dilema-efektivitas-dan-ham-menganalisis-kontroversi-perampasan-aset-non-penal-ncbf/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan (NCBF) Jadi Kunci Berantas Kejahatan</title>
		<link>https://blog.kilat.quest/2025/08/11/5-alasan-perampasan-aset-tanpa-vonisncbf-jadi-kunci-berantas-kejahatan/</link>
					<comments>https://blog.kilat.quest/2025/08/11/5-alasan-perampasan-aset-tanpa-vonisncbf-jadi-kunci-berantas-kejahatan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[ariefadi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2025 09:47:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Korporasi]]></category>
		<category><![CDATA[Penyelamatan Aset]]></category>
		<category><![CDATA[Regulasi & Layanan]]></category>
		<category><![CDATA[White Collar]]></category>
		<category><![CDATA[Asset Recovery]]></category>
		<category><![CDATA[Follow The Money]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Pidana]]></category>
		<category><![CDATA[NCBF]]></category>
		<category><![CDATA[Pemberantasan Korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[Perampasan Aset]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://blog.kilat.quest/?p=374</guid>

					<description><![CDATA[(Seri 1 dari 3 tulisan tentang Perampasan Aset Hasil Kejahatan secara Non Pidana) Di era serba digital ini, kejahatan tidak lagi bersembunyi di balik bayang-bayang. Mereka terorganisir, transnasional, dan yang paling penting, dimotivasi oleh keuntungan finansial yang besar. Korupsi, pencucian uang, dan perdagangan ilegal sering kali melibatkan skema yang begitu rumit sehingga penegakan hukum konvensional—yang berfokus pada penuntutan pidana terhadap individu atau “Follow The Suspect”—sering kewalahan. Terkadang, pelaku berhasil melarikan diri, menyembunyikan aset, atau bahkan meninggal dunia, meninggalkan negara dan korban tanpa pemulihan aset yang berarti. Menyadari keterbatasan ini, dunia internasional mulai mengadopsi pendekatan baru: Perampasan Aset Non-Pidana (Non-conviction based asset forfeiture/NCBF). Ini adalah strategi yang membalikkan logika tradisional, mengalihkan fokus dari pelaku kejahatan ke aset itu sendiri, atau yang dikenal dengan slogan “Follow The Money”. Artikel bagian pertama ini akan mengupas tuntas mengapa NCBF menjadi instrumen yang sangat relevan dan strategis, menelusuri sejarah dan filosofi hukum yang melandasinya. Kita akan melihat bagaimana NCBF tidak hanya menghukum, tetapi juga melumpuhkan jaringan kriminal secara permanen. Pembahasan: Memahami Konsep, Sejarah, dan Filosofi NCBF Definisi dan Tujuan NCBF: Melumpuhkan Jaringan, Bukan Sekadar Menghukum Individu NCBF adalah proses hukum yang memungkinkan pengadilan untuk memerintahkan penyitaan aset yang terbukti berasal dari atau digunakan dalam kejahatan, tanpa perlu vonis pidana terhadap pemiliknya. Instrumen ini dikenal dengan berbagai istilah, seperti civil forfeiture (penyitaan sipil), in rem forfeiture (penyitaan terhadap properti), atau extinción de dominio di beberapa yurisdiksi. NCBF secara fundamental mengubah cara kita memandang penegakan hukum. Jika sebelumnya kita mengejar tersangka, kini kita mengejar aset ilegal, menjadikannya subjek utama tindakan hukum. Tujuan utama NCBF jauh melampaui sekadar retribusi pidana. Ia dirancang untuk: Evolusi Sejarah: Dari Praktik Kuno hingga Wajib Internasional Praktik perampasan aset sudah ada sejak zaman kuno. Kita bisa melihatnya dalam hukum Romawi dan hukum umum Inggris kuno, di mana benda yang menyebabkan kerugian atau kematian dapat disita oleh kerajaan. Konsep ini kemudian berkembang menjadi in rem forfeiture di Amerika Serikat, di mana kapal bajak laut atau penyelundup dianggap “properti bersalah” dan dapat disita tanpa vonis terhadap kaptennya. Fiksi hukum inilah yang menjadi dasar teoritis NCBF modern. Di era modern, adopsi NCBF secara luas didorong oleh komitmen internasional. United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) Pasal 54(1)(c) secara spesifik merekomendasikan negara-negara untuk mempertimbangkan langkah-langkah penyitaan aset tanpa vonis pidana. Lebih penting lagi, Financial Action Task Force (FATF), sebuah badan global yang menetapkan standar anti-pencucian uang, menjadikan legislasi NCBF sebagai persyaratan wajib bagi negara anggotanya melalui Rekomendasi 4 dan 38. Negara yang tidak mematuhinya berisiko mendapatkan sanksi, seperti grey-listing, yang dapat merusak reputasi dan ekonomi mereka. Ini menunjukkan bahwa NCBF bukan sekadar pilihan, tetapi sebuah keharusan dalam tata kelola global. Pergeseran Paradigma Filosofis: Dari In Personam ke In Rem Landasan hukum NCBF berpusat pada pergeseran paradigma dari tindakan “in personam” menjadi “in rem”. Perbedaan ini bukan sekadar teknis, melainkan filosofis. Ini adalah pengakuan bahwa aset ilegal, terlepas dari siapa pemiliknya, adalah ancaman bagi masyarakat. Fokus pada properti memungkinkan negara melewati hambatan prosedural dan beban pembuktian yang lebih tinggi yang melekat pada penuntutan individu. Ini adalah langkah yang pragmatis dan efisien untuk memastikan “kejahatan tidak akan menguntungkan”. Analisis Ekonomi Hukum: Optimalisasi Pemulihan Aset NCBF juga didukung oleh teori Analisis Ekonomi Hukum (EAL). Pendekatan ini melihat hukum sebagai alat untuk mencapai tujuan ekonomi, dalam hal ini, memaksimalkan pemulihan aset dan mencegah kejahatan. NCBF dianggap sebagai cara yang paling efisien untuk mengembalikan kerugian negara. Data menunjukkan bahwa proses NCBF cenderung memulihkan aset secara proporsional lebih banyak dibandingkan dengan proses pidana tradisional. Selain itu, NCBF juga menghasilkan proporsi aset beku yang lebih tinggi yang pada akhirnya berhasil disita. Rasionalisasi pragmatis ini menunjukkan bahwa NCBF merupakan adaptasi strategis sistem hukum terhadap sifat kejahatan modern. Ia menyadari bahwa hukum pidana konvensional seringkali tidak memadai untuk mengatasi kejahatan terorganisir yang canggih. Dengan menargetkan keuntungan finansial secara langsung, NCBF memberikan sinyal kuat bahwa aktivitas ilegal tidak akan menghasilkan kekayaan, yang merupakan pencegah paling efektif bagi pelaku. Kesimpulan NCBF merupakan evolusi penting dalam hukum pidana modern. Dengan mengalihkan fokus dari &#8220;Follow The Suspect&#8221; ke &#8220;Follow The Money,&#8221; NCBF menawarkan solusi yang lebih adaptif dan efektif untuk memberantas kejahatan transnasional dan korupsi. Namun, kekuatan NCBF yang terletak pada efisiensinya juga memicu perdebatan sengit tentang hak asasi manusia. Penggunaan standar pembuktian yang lebih rendah dan konsep reverse onus (beban pembuktian terbalik) menjadi titik krusial yang mengundang kritik. Bagian pertama ini telah meletakkan dasar pemahaman tentang NCBF, dari definisinya hingga filosofi hukum yang melandasinya. Di bagian kedua nanti, kita akan mendalami perdebatan panas seputar NCBF, khususnya tentang bagaimana alat ini memengaruhi prinsip-prinsip fundamental seperti praduga tak bersalah dan hak untuk proses hukum yang adil. Kita akan mengeksplorasi bagaimana berbagai negara di dunia menyeimbangkan efektivitas penegakan hukum dengan perlindungan hak asasi manusia.]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://blog.kilat.quest/2025/08/11/5-alasan-perampasan-aset-tanpa-vonisncbf-jadi-kunci-berantas-kejahatan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
